Pada tanggal 22 April 2025, pukul 12.00 WIT, di GPKAI Gereja Sentral Oikumene (GSO) Kp. Andang, Distrik Anggi, Kab. Pegunungan Arfak, Prov. Papua Barat, telah dilaksanakan Launching Program Ekoteologi Penanaman 1 Juta Pohon Matoa untuk memperingati Hari Bumi ke-55 sesuai Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden melalui kementrian Agama di wilayah Kab. Pegaf, di pimpin oleh Ibu Yokbet Kowi ( Kepala Kantor Kementrian Agama Pegaf ) dan di hadiri -+ 30 orang.
Dalam kegiatan tersebut Turut hadir Sbb:
– Ibu Yokbet Kowi ( Kepala Kantor Kementrian Agama Pegaf )
– Bpk. Yunus Ullo Wakil III DPRK Pegaf
– Ibu Dina Layuk Bandua, S.Pd.K ( Ketua Majelis Greja GPKAI )
– Bpk. Soni Wofu S.pd ( Kepala Bank Papua Anggi )
– Bpk. Alfret Kepala KCP Anggi
– IPDA Hairum Kapolsek Anggi.
– Iptu Yohanes Taba (Kabak OPS Polres Anggi).
– Letda Roni ( Pasi Ter Kodim Pegaf )
– Bpk. April Indow ( Kepala Suku Anggi )
– Tokoh Masarakat
Dalam Sambutan Ibu. Yokbet Kowi ( Kepala Kantor Kementrian Agama Pegaf ) Sbb :
Shalom puji sukur kita Panjatkan kepada Tuhan bahwa kita masih di berikan kesehatan sehingga dapat berkumpul di dalam gereja ini untuk mengikuti kegiatan Program Ekoteologi Penanaman 1 Juta Pohon Matoa untuk memperingati Hari Bumi ke-55 sesuai Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden melalui kementrian Agama yang ada di Kab. Pegaf.
Program Ekoteologi Penanaman 1 Juta Pohon Matoa ini merupakan implementasi dan penguatan Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia poin ke-8, yakni memperkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam, dan budaya, serta peningkatan toleransi antar umat beragama untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur.
Pohon Matoa di pilih sebagai simbolis gerakan ini karena merupakan pohon endemik Indonesia yang berasal dari tanah Papua, yang memiliki nilai ekologis dan sosial yang tinggi.

Pohon Matoa dikenal sebagai spesies yang adaptif terhadap berbagai kondisi lingkungan, tumbuh kuat dan rindang, serta menghasilkan buah yang kaya akan manfaat kesehatan, selain itu, pohon ini juga memiliki nilai budaya yang kuat (konstruksi rumah adat) di beberapa daerah di Indonesia, sehingga dapat menjadi media yang efektif dalam menyebarluaskan pesan konservasi berbasis kearifan lokal.
Melalui program ini, diharapkan lahir kesadaran kolektif bahwa menjaga bumi adalah bagian dari ibadah, untuk membangun masyarakat yang adil, makmur, dan selaras dengan lingkungan sesuai visi Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden yang harus diwujudkan secara bersama.
Mari kita sama sama baik pemerintah maupun tokoh masarakat untuk mendukung program Ekoteologi sesuai arahan Presiden dan Wapres melalui Kementrian Agama untuk mengintegrasikan nilai agama dan kesadaran ekologis, dengan tujuan membangun harmoni Tuhan, manusia dan alam.













